Jika kita mau “membaca”, waktu bisa bicara banyak hal. Demikian pula pada fotografi yang bukan saja merupakan proses kreatif, melainkan juga proses sejarah kehidupan. Teknologi fotografi bermula dari keinginan manusia yang nyatanya memang menjadi tuntutan kebutuhan dalam pendokumentasian, untuk bisa merekam gambar sepersis mungkin.
“Membaca” pada fotografi lebih dari sekedar melihat. Membaca merupakan pendokumentasian dengan proses menganalisa yang dimulai dari melihat, merasakan, memikirkan, barulah otak mengambil keputusan memerintahkan otot motorik menggerakkan anggota badan untuk melakukan sebuah pendokumentasian.
Jika pendokumentasian peradaban telah mulai dilakukan manusia pada lima ribu tahun lalu, nyatanya “revolusi” pendokumentasian dengan fotografi baru sekitar dua abad belakangan saja dapat dilakukan. Niscaya didahului dengan tindakan-tindakan kreatif serta adanya pemikiran-pemikiran yang revolusioner.
Lahirnya teknologi digital menawarkan cara mewujudkan perupaan baru. Kemudahan-kemudahan teknik pembuatan fotografi yang ditawarkannya memungkinkan seorang fotografer lebih berkonsentrasi pada aspek gagasan dan perupaan. Konsep yang dulu milik seni rupa kini lebur dalam fotografi digital. Batasan seni dan bukan seni bagi fotografi bagaikan tak penting lagi diperdebatkan.
Lain halnya dengan konsep. Banyak yang membuat karya foto dengan obyek budaya atau alam Indonesia, tetapi mengapa jarang terlihat aliran seni foto dengan konsep lokalitas asli Indonesia yang dengan sengaja dimunculkan? Mengapa hanya kecanggihan alat yang selalu diperdebatkan? Padahal untuk menghasilkan sebuah karya tidak bergantung pada alat apa yang digunakan. Sisi lainnya yakni bahasa perupaan yang menjadi “isi” karya tersebut adalah hal yang sebenarnya memaknai kehadirannya.
Tapi jika memang alat rekam gambar yang dipersoalkan, asal dengan kesungguhan untuk meningkatkan kemampuan visi, misi, imajinasi, dan fiksi, hanya dengan menggunakan kamera HP, kamera Scanner, bahkan kaleng atau dus bekas, kita bisa menghasilkan karya yang luar biasa.
Selanjutnya, kreativitas dan inovasi para fotografer Indonesia sendiri yang niscaya bisa memberikan jawaban bahwa fotografi Indonesia (pernah) dan patut diperhitungkan.
Semoga.....
Pengetahuan fotografi kalau ingin digali lebih dalam sebenarnya bicara masalah hidup yang tak lepas dari sejarah, dan itu sangat erat dengan kepedulian kita terhadap apa yang terjadi disekeliling kita. Kata lain adalah toleransi. Sejarah mengajarkan kita agar hidup lebih baik, memiliki cara berpikir yang lebih bijaksana. Pendahulu telah menciptakan banyak catatan sejarah untuk kebaikan masa depan kita. Dan saatnya kita membuat catatan sejarah agar dunia ini terus berputar. Kang Ray Bachtiar adalah fotografer yang sangat peduli dengan eksistensi kita saat ini. Terasa sekali kepedulian beliau terhadap kondisi fotografi saat ini dan menjelaskan mengapa kita mengabadikan gambar. Saya sangat yakin bahwa kita tidak akan bisa menyelamatkan dunia dari sesuatu yang besar, tetapi kita mulai dari hal kecil yang berada disekeliling kita, dari apa yang kita cintai, yaitu fotografi. Buku ini membuka pikiran saya tentang sejarah Indonesia yang sangat kaya dan perlu kita lestarikan. Bravo....
Anton Ismael
fotografer profesional
Saya mengenal Ray Bachtiar adalah: sosok manusia yang telah berkecimpung di dunia fotografi lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itulah, motivasi dan kreativitasnya dibidang fotografi, mempunyai kecenderungan untuk selalu menemukan ide-ide baru dan original. Dalam buku ini, Ray betul-betul ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan para pembaca (khususnya pecinta fotografi) yang disampaikan secara sederhana dan mudah dimengerti. Semoga buku ini menjadi inspirasi dan semangat para fotografer terutama di Indonesia.
Darwis Triadi
fotografer profesional
Kreativitas yang membutuhkan keberanian dari seorang Ray Bachtiar telah menambahkan sejarah Fotografi Indonesia. Dan dengan kemajuan teknologi dan kebebasan berkreasi didalam dirinya menghasilkan satu kesatuan karya yang unik.
Eky Tandyo
fotografer profesional
Ini adalah sebuah buku yang ”kaya”. Sarat dengan informasi dan ilmu yang dibutuhkan oleh semua orang yang mencintai fotografi. Kang Ray menuliskan pengalaman dan pengetahuannya dengan gaya bahasa yang akrab dan ramah. Menjadikan buku ini sebuah buku yang kaya, padat, dan bermanfaat. Inilah buku yang patut dimiliki sebagai sebuah referensi. Dunia fotografi Indonesia bersyukur ada seorang kang Ray Bachtiar, yang mau menulis buku seperti ini untuk kita semua. Nuhun kang......
Ferry Ardianto
fotografer profesional
Motivasi memotori sebuah perbuatan. Ide melahirkan konsep yang menciptakan karya. Fotografi menjadi sebuah perbuatan yang kreatif tatkala berawalkan ide yang segar dan asli. Kreativitas hanya berbatas imajinasi, dan imajinasi hanya berbatas kebebasan. Ketika fotografi menjadi nirkreativitas, buku ini menerbitkan motivasi baru untuk berkarya seraya membebaskan imajinasi.
Kristupa Saragih
fotografer dan founder Fotografer.net
Yang paling menarik dari perenungan Ray adalah menggali konsep dari seni tradisi Indonesia. Dalam seni lainnya misalkan seni lukis banyak yang melakukan hal serupa, tapi dalam seni foto jarang sekali aku lihat. Mungkin karena terlalu terpengaruh masalah alat dan konsep fotografi yang selalu kita impor...
Nico Damajungen
fotografer profesional
Suatu sumbangan yang sangat penting bagi belantara fotografi kita yang dilingkari jeruji keterpasungan ide dan kreativitas. Ritual Fotografi nya Ray Bachtiar dengan gamblang mengantarkan kita pada proses menerobos batas-batas, memerdekakan diri menuju penciptaan sebagai puncak pembentukan diri seorang fotografer yang mandiri.
Oscar Motuloh
fotografer dan Kurator Fotojurnalistik Antara
Saya mengenal Kang Ray sejak 1985 ketika masih menjadi freelancer majalah Gadis dan datang ke Yogya menghunting pelukis Affandi. Nah, sejak itulah saya tahu bahwa dia adalah seorang anak muda yang “gelisah” selalu ingin berbuat kreatif. Pertemanan berlanjut, tahun 1995-an kembali bertemu sambil memperkenalkan foto-foto kreatifnya yang amat ekspresif. Kang Ray telah menunjukkan solusi dan cara yang tepat bagi kreativitas fotografi yang selalu saya anjurkan kepada para mahasiswa untuk “menjadikan fotografi sebagai alat berekspresi secara kreatif”. Fotografi bukan lagi hanya sekedar alat perekam objek, tapi harus mampu menciptakan objek. Saya bangga Kang Ray berani “melawan arus”, karena kami memang membutuhkan banyak sparring partner. Viva Fotografi, Maju Terus...
Risman Marah
Media Rekam ISI Yogyakarta
Fotografi adalah visi yang hadir sebagai representasi visual, hanya itu – selebihnya adalah pernik. Ray Bachtiar yang telah menjelajahi segenap instrumen fotografi, mulai dari yang paling ”primitif” sampai yang paling mutakhir, tetap berpendapat bukanlah alat, melainkan visi yang merupakan pergulatan fotografer. Semua itu berusaha disampaikannya dalam buku ini. Tentu menarik untuk memeriksa pengalaman dan perenungannya dalam pergulatan itu.
Seno Gumira Ajidarma
fotografer dan budayawan
*UPDATE* Prolog & Daftar Isi

Editor’s Note:
Full Color Art Paper
Sudah bisa didapatkan di toko buku & agen terdekat mulai hari Rabu, 7 Mei 2008.
Spesifikasi Buku
Ukuran : 23 x 30 cm
Harga : Rp. 69.800,-.
Ketebalan : 120 hal. (incl. cover)
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Kelompok : Bisnis & Enterpreneur
Jenis Buku : Enterpreneurship
======================================Pemesanan & informasi, hubungi :
SHOWROOM Elex Media Komputindo Jakarta
Telp. 62-21 585 1473-4
62-21 536 99 123-4 hubungi kami DIRECT SELLING Surabaya
Telp. (62-31) 841 2913
hubungi kami